Admin Madanika
Madanika tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berintelektual.
Konflik Iran–Israel–AS berpotensi mengganggu pasokan bahan baku tekstil Indonesia. Industri TPT menghadapi risiko produksi dan kenaikan biaya logistik ekspor.
MADANIKA.ID, Jakarta — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan dampak lanjutan terhadap sektor industri nasional. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia menghadapi risiko gangguan pasokan bahan baku utama akibat ketergantungan impor dari kawasan yang terdampak konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ancaman terbesar datang dari potensi terganggunya pasokan Monoetilen Glikol (MEG), komponen penting dalam produksi serat poliester yang menjadi tulang punggung ekspor tekstil Indonesia.
Ketergantungan impor MEG Indonesia mencapai sekitar 85% dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat rantai produksi domestik sangat sensitif terhadap gangguan distribusi global.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyebut pasokan bahan baku kini menjadi perhatian utama pelaku industri.
"Dari sisi bahan baku, kita impor MEG 85% dari Timur Tengah, sepertinya ini yang akan terganggu. Kita coba alihkan impornya dari Malaysia. Kalau MEG kita saat ini ada stok untuk di atas 2 bulan," kata Redma, Senin, 2 Maret 2026, seperti dikutip dari cnbcindonesia.com.
MEG merupakan bahan utama produksi poliester yang digunakan secara luas dalam industri garmen dan tekstil ekspor. Gangguan pasokan berpotensi langsung memengaruhi kapasitas produksi nasional.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, pelaku industri mulai mempertimbangkan diversifikasi sumber impor.
Redma mengakui harga bahan baku dari Timur Tengah lebih kompetitif, namun stabilitas pasokan kini menjadi prioritas utama.
"Untuk harga memang lebih murah yang dari Arab (Timur Tengah), dari Malaysia sedikit lebih mahal. Tapi tidak terlalu beda jauh. Tidak ada masalah (mengalihkan impor dari Malaysia), karena selama ini juga kan kita impor dari Malaysia, meski dalam jumlah kecil," ujarnya.
Langkah pengalihan impor dinilai sebagai strategi mitigasi risiko jangka pendek guna menjaga keberlangsungan produksi tekstil nasional.
Di tengah kekhawatiran terhadap MEG, industri masih memiliki ruang aman pada bahan baku utama lainnya.
"Kalau bahan baku utama lainnya seperti PTA (Purified Terephthalic Acid), 95% disuplai dari dalam negeri," ucap dia.
Ketersediaan PTA domestik membantu menahan tekanan lebih besar terhadap industri, meskipun ketergantungan pada MEG tetap menjadi tantangan utama.
Selain pasokan bahan baku, konflik geopolitik juga diperkirakan meningkatkan biaya distribusi global. Kenaikan premi asuransi pelayaran dan potensi perubahan jalur pengiriman menjadi faktor utama.
"Biaya logistik bisa dipastikan naik, terkait biaya asuransi hingga waktu transportasi yang akan bertambah," ujarnya.
Kondisi tersebut berpotensi menekan daya saing ekspor tekstil Indonesia, terutama ke pasar utama.
Eropa menyerap sekitar 30% ekspor TPT Indonesia, sementara Amerika Serikat mencapai sekitar 40%. Kedua pasar tersebut kini menghadapi tantangan berbeda.
"Ekspor ke Eropa pasti akan terganggu karena biaya logistik dan waktu pengiriman. Kalau impor sepertinya tidak akan terpengaruh banyak karena kita impor benang dan kain 90% dari China," jelas dia.
Ketergantungan besar pada dua pasar utama tersebut membuat industri tekstil menghadapi tekanan simultan dari sisi biaya logistik dan hambatan perdagangan.
Di dalam negeri, industri juga menghadapi tantangan struktural berupa dominasi produk impor yang masih tinggi.
"Ini akan mengganggu kinerja ekosistem secara keseluruhan. Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja, pemerintah perlu kasih kebijakan untuk dorong industri menguasai pasar domestik yang saat ini 60%-nya dikuasai produk impor," kata Redma.
Situasi ini mempersempit ruang adaptasi industri nasional ketika tekanan global meningkat.
Konflik Timur Tengah menunjukkan bagaimana ketergantungan impor bahan baku strategis dapat langsung memengaruhi ketahanan industri ekspor. Industri tekstil Indonesia kini tidak hanya menghadapi dinamika permintaan global, tetapi juga risiko geopolitik yang berdampak pada pasokan dan biaya distribusi.
Jika eskalasi konflik berlanjut, stabilitas rantai pasok global diperkirakan menjadi faktor penentu kinerja ekspor tekstil Indonesia sepanjang 2026.
Ikuti Kami