Admin Madanika
Madanika tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berintelektual.
Hairul Anwar Akademisi Unmul
Gaya bicara Wakil Ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis viral di media sosial. Pengamat Universitas Mulawarman menilai substansi tetap yang terpenting dalam komunikasi politik.
MADANIKA.ID, Samarinda — Gaya bicara Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, dalam sebuah wawancara mengenai insiden kapal menabrak Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial.
Potongan video wawancara tersebut beredar di berbagai platform digital dan memicu beragam tanggapan dari warganet. Sorotan publik tidak hanya tertuju pada isi pernyataan, tetapi juga pada cara Ananda menyampaikan jawabannya kepada wartawan.
Fenomena tersebut kemudian mendapat perhatian dari pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Hairul Anwar atau yang akrab disapa Jody. Ia menilai viralnya video tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika komunikasi politik di era media sosial.
“Sekarang ini apa pun bisa dipotong-potong lalu menjadi narasi yang ramai di media sosial. Semua orang punya kepentingan dan sudut pandang masing-masing,” kata Jody, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, di era digital saat ini hampir setiap pernyataan pejabat publik memiliki potensi untuk menjadi viral, terutama ketika disebarkan dalam bentuk potongan video yang mudah dikonsumsi masyarakat.
Jody menilai publik saat ini tidak hanya menilai isi pesan seorang politisi, tetapi juga cara mereka menyampaikan gagasan di ruang publik.
“Legislatif memang harus belajar bahwa substansi itu penting. Tapi ada juga masyarakat yang melihat penampilan atau cara berbicara. Itu bagian dari pekerjaan politik karena mereka berhadapan langsung dengan publik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa substansi pesan tetap menjadi faktor yang paling penting dalam komunikasi politik.
“Yang berbahaya itu kalau substansinya tidak ada dan penampilannya juga tidak baik. Kalau substansinya ada, sisanya tinggal soal jam terbang saja,” katanya.
Ia juga menilai viralnya gaya bicara Ananda di media sosial kemungkinan tidak terlepas dari isu yang dibahas, yakni insiden kapal yang berulang kali menabrak jembatan di Sungai Mahakam.
“Mungkin saja ada kaitannya, mungkin juga tidak. Tapi yang disuarakan Ananda sebenarnya ada dalam pikiran banyak masyarakat Kaltim, yaitu soal kapal yang terus menabrak jembatan,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan pengelolaan jalur pelayaran di Sungai Mahakam memang sudah lama menjadi perhatian masyarakat Kalimantan Timur, terutama terkait aktivitas kapal yang melintas di bawah jembatan.
“Kalau yang disuarakan adalah kepentingan masyarakat Kaltim, itu tidak akan berhenti hanya karena orang yang menyampaikan diframing negatif,” kata Jody.
Sebelumnya, potongan video wawancara Ananda Emira Moeis mengenai insiden tabrakan kapal di Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu beredar luas di media sosial.
Video berjudul “Jembatan Mahulu tiga kali ditabrak, Legislator minta KSOP dan Pelindo bekerja lebih serius” turut memicu kritik dari salah satu influencer di Instagram berinisial R yang menyoroti kualitas pejabat di Kalimantan Timur.
Unggahan tersebut kemudian memancing perdebatan di media sosial. Hingga kini, postingan itu telah dipenuhi lebih dari enam ribu komentar dan dibagikan lebih dari 1.800 kali.
Video yang sama juga diunggah ulang oleh akun Instagram lain yang menyoroti respons publik terhadap pernyataan tersebut, termasuk reaksi emoji kaget dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Dalam wawancara dengan wartawan, Ananda sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak menempatkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari aktivitas pelayaran di bawah jembatan sebagai prioritas utama.
Ia menilai keselamatan masyarakat yang melintas di atas jembatan harus menjadi perhatian utama, sembari tetap memastikan arus distribusi logistik tidak terganggu.
Karena itu, ia meminta instansi yang memiliki kewenangan terhadap aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam, seperti KSOP dan Pelindo, agar bekerja lebih serius dalam melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Ikuti Kami