Admin Madanika
Madanika tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berintelektual.
Tarif listrik dan emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi Kalimantan Timur Januari 2026 yang mencapai 3,76 persen menurut BPS.
MADANIKA.ID Samarinda - Tekanan biaya hidup masyarakat Kalimantan Timur kembali meningkat pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 3,76 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,84. Kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh lonjakan harga pada sektor kebutuhan rumah tangga dan jasa, dengan tarif listrik serta emas perhiasan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tercatat mengalami inflasi y-on-y sebesar 10,06 persen, menjadikannya salah satu sektor dengan kenaikan harga tertinggi. Tarif listrik memberikan andil inflasi terbesar dalam kelompok ini, disusul oleh biaya sewa rumah serta jasa pemeliharaan hunian. Kenaikan ini secara langsung meningkatkan beban pengeluaran rutin rumah tangga, khususnya di wilayah perkotaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi listrik dan jasa perumahan.
Selain sektor perumahan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi secara persentase, yakni mencapai 15,91 persen. Emas perhiasan menjadi komoditas dominan dalam kelompok ini, dengan andil inflasi yang signifikan. Kenaikan harga emas tidak hanya berdampak pada konsumsi masyarakat, tetapi juga mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi global. Produk perawatan diri serta jasa personal seperti potong rambut dan perawatan tubuh turut menyumbang kenaikan harga pada kelompok ini.
Tekanan inflasi juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi y-on-y sebesar 2,74 persen. Sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, ikan segar, bawang merah, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor pasokan dan distribusi pangan masih berpengaruh terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok di Kalimantan Timur.
Di sektor jasa, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 2,46 persen, dipengaruhi oleh kenaikan biaya pendidikan dasar hingga perguruan tinggi serta jasa bimbingan belajar. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi y-on-y sebesar 1,41 persen, mencerminkan kenaikan harga makanan jadi dan jasa kuliner yang semakin dirasakan masyarakat.
Meski demikian, tidak semua sektor mengalami kenaikan harga. BPS mencatat adanya deflasi pada beberapa kelompok pengeluaran, seperti pakaian dan alas kaki yang turun 1,01 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,35 persen. Penurunan harga pada kelompok ini turut menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tajam, terutama di tengah tekanan biaya hidup pada sektor kebutuhan dasar.
Secara bulanan, inflasi Kalimantan Timur pada Januari 2026 relatif terkendali. Inflasi month to month (m-to-m) dan year to date (y-to-d) masing-masing tercatat sebesar 0,04 persen. Hal ini menunjukkan bahwa lonjakan harga lebih bersifat akumulasi tahunan, bukan akibat gejolak harga yang tajam dalam satu bulan terakhir.
Dengan struktur inflasi yang didominasi oleh sektor perumahan, energi, dan jasa, kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Pengendalian tarif energi, penguatan distribusi bahan pokok, serta perlindungan konsumen menjadi kunci untuk meredam tekanan inflasi di Kalimantan Timur sepanjang 2026.
Ikuti Kami